expresi media- , Dewasa ini, arus informasi bisa dibilang mengalir kian deras. Aliran informasi mengalir dari sumber satu ke penerima dan kemudian mengalir lagi ke penerima berikutnya. Begitu seterusnya. Keadaan seperti ini memang tak bisa dihindari. Bisa dibilang hal ini adalah salah satu konsekuensi dari majunya teknologi komunikasi dan informasi di bumi ini. Ya, kemajuan teknologi yang sangat mendukung perkembangan komunikasi dan informasi.
Beberapa alat komunikasi dengan teknologi canggih bermunculan dengan menawarkan segala kemudahan yang ada. Alat komunikasi yang tidak lain juga sebagai media informasi tersebut pun mendapat sambutan yang baik dari para konsumen. Konsumen memang tidak bisa menyia-nyiakan begitu saja tawaran kemudahan tersebut. Tak bisa dipungkiri, mereka juga sangat membutuhkannya. Informasi yang dapat mereka peroleh dari media tidak dipungkiri sangat berguna bagi kehidupan mereka.
Sebut saja televisi sebagai salah satunya. Televisi bukan sekedar perkakas elektronik biasa yang terdapat di rumah-rumah. Lebih dari itu, perannya sungguh sangat besar bagi kehidupan penggunanya. Apalagi sekarang ini televisi sudah tidak lagi tergolong dalam barang mewah. Hampir setiap rumah khususnya di kota telah memiliki televisi. Televisi menyajikan banyak sekali berita, informasi, hiburan, serta masih banyak hal lain yang dapat diperoleh darinya. Dengan cara yang tidak susah, penonton semakin dimanjakan oleh kotak ajaib tersebut. Mereka dapat dengan mudah menonton televisi kapanpun bahkan di manapun serta memilih apapun yang ingin mereka tonton.
Diungkapkan oleh Burhan Bungin dalam bukunya Erotika Media Massa, bahwa kemampuan televisi tidak dapat diwujudkan oleh media lain sebelumnya sehingga televisi menjadi medium pembenaran mendekati kaidah ilmiah telah terjawab melalui medium yang absurd, maya, dan juga penuh dengan kebohongan. Sebelumnya orang tak membayangkan kalau ia bisa bersahabat dengan medium yang naïf seperti televisi ini, tetapi nyatanya televisi telah menjadi sahabat baru berjuta-juta manusia di bumi dengan segala sajian hiburan, pengetahuan, dan juga kadang fitnah. Televisi memproduksi sifat dan kemampuan yang ada pada semua manusia, dalam interaksi dengan manusia lain (Burhan, 2001:79).
Berbagai macam informasi dan hiburan dapat diakses melalui televisi. Hampir tak terbatas jarak dan waktu. Konsumen dapat memeperoleh berbagai informasi dan hiburan sekalipun dari negara atau benua yang berbeda. Hal ini tentu saja menjadi daya tarik tersendiri dari alat elektronik ini. Namun perlu diingat, tidak hanya manfaat yang didapat tapi juga bahaya serta kerugian bagi penonton yang dapat ditimbulkan dari televisi.
Jika mengkaji lebih dalam, pengaruh televisi terhadap penontonnya tidak hanya pada hal positif, tetapi juga memiliki dampak negatif atas apa yang disajikan olehnya. Sadar atau tidak, hal ini tentu telah terjadi di masyarakat. Frekuensi serta bebasnya akses televisi membuat konsumen secara tidak sadar tak dapat menyaring dengan baik informasi yang dipertontonkan di televisi. Akibatnya, penonton bisa saja menelan mentah-mentah apa yang ia tonton dari televisi.
Gencarnya pemberitaan tentang suatu fenomena atau kasus di televisi misalnya. Berita disajikan dengan semenarik dan sepersuasif mungkin. Bahkan kadang hingga menimbulkan provokasi. Didukung dengan gambar bergerak yang memang sebagai salah satu kelebihan televisi, berita menjadi semakin menarik. Hal ini yang pada akhirnya menjadikan televisi sebagai salah satu pemicu tindakan-tindakan yang di luar keinginan. Sebagaimana yang ditulis dalam buku Media Massa dan Masyarakat Modern sebagai berikut:
Sebelumnya, bujukan radio dan televisi hanya dari iklan. Kini, radio dan televisi juga punya sikap tertentu yang dipertahankannya dalam berbagai kesempatan. Contohnya adalah pada liputan terhadap komite penyidik kriminal Senat yang dipimpin Senator Joseph McCarthy. Meskipun tidak setegas koran, radio dan televisi juga berusaha memengaruhi opini publiknya (Rivers; Peterson dan Jensen, 2003: 249).
Artikel informatif yang memaparkan fakta-fakta lebih dipercaya sehingga lebih sering digunakan untuk membentuk opini publik. Dalam bukunya yang berjudul Gaugling Public Opinion, Hadley Cantril menyatakan: “Pendapat biasanya lebih terbentuk oleh fakta daripada kata-kata, kecuali jika kata-kata itu sendiri merupakan sebuah fakta penting.” Dalam kenyataannya, fakta atau peristiwalah yang mengubah opini publik. Namun tanpa ulasan-ulasan yang membesar-besarkannya, biasanya opini publik itu akan berubah lagi (Rivers; Peterson dan Jensen, 2003: 233).
Sebagaimana dikemukakan Bernard Berelson, kecenderungan itu punya dua implikasi penting. Pertama, peristiwa atau kata-kata menjadi tidak mudah dibedakan. Misalnya pidato presiden, yang jelas merupakan kata-kata namun bobotnya setara dengan peristiwa penting. Kedua, suatu peristiwa mengubah opini publik acapkali bukan karena peristiwanya saja namun karena bantuan kata-kata yang membesar-besarkannya. Itu berarti makna suatu peristiwa turut ditentukan oleh interpretasi yang dilakukan komentator televisi, penulis tajuk rencana, dan kolumnis politik (Rivers; Peterson dan Jensen, 2003: 233).
Penjelasan tersebut di atas semakin menguatkan persepsi bahwa televisi atau media masa baik cetak maupun elektronik dapat dengan kuat membentuk suatu opini publik. Publik cenderung percaya pada apa yang mereka tonton, baik hiburan maupun berita. Bahkan tidak disangkal bahwa pada akhirnya publik menjadikan media sebagai opinion leader baru mereka. Mereka mengandalkan media sebagai sumber informasi yang dapat mereka percayai. Lihat saja berbagai contoh kasus atau anarkisme yang terjadi di negeri ini. Kebanyakan hal tersebut terjadi lantaran para pelaku menerima berita dan informasi yang memicu emosi mereka dari televisi. Lalu mereka bersama grup nya berbondong-bondong untuk melakukan suatu gerakan tertentu seperti misalnya demonstrasi yang diwarnai anarkis.
Persuasi serta provokasi acara televisi memang mudah sekali membuat penontonnya bereaksi. Apalagi komunikasi yang terbentuk oleh televisi dan penontonnya adalah komunikasi satu arah. Sehingga komunikator atau dalam hal ini misalnya penyiar berita, tak bisa berkomunikasi secara langsung dengan komunikan atau penonton. Sehingga tidak terjadi komunikasi efektif seperti halnya dalam komunikasi intrapersonal. Seperti yang ditulis Drs. Darwanto, S. S dalam bukunya Televisi Sebagai Media Pendidikan, sebagai berikut:
Situasi komunikator yang demikian, menunjukkan bahwa komunikasi melalui media massa, komunikator tidak mampu mengendalikan arus informasi, karena komunikan tidak dapat interupsi untuk menanyakan/menyanggah informasi yang disampaikan. Sebaliknya komunikator juga tidak mengetahui reaksi dari komunikan saat komunikasi sedang berlangsung. Baru beberapa waktu kemudian reaksi dari komunikannya diketahuinya. Itu pun masih harus dilakukan dengan melakukan penelitian secara mendalam (Darwanto, 2007:47).
Darwanto menambahkan bahwa umpan balik dalam suatu proses komunikasi merupakan sesuatu yang sangat penting, yaitu sebagai bahan masukan yang diperlukan untuk penyempurnaan siaran pada masa mendatang (Darwanto, 2007: 47).
Yang lebih dikhawatirkan adalah jika hal ini terjadi pada anak-anak. Mereka yang masih polos relatif lebih mudah terpengaruh oleh siaran televisi. Anak-anak biasanya mudah terpengaruh dan menurut pada apa yang mereka dapat dari siaran televisi. Malah kadang mereka lebih percaya pada televisi ketimbang pada nasihat orang tua atau orang di sekitar mereka. Hal ini tentu harus diwaspadai karena dapat berakibat fatal jika terus dibiarkan.
Dalam buku Televisi Sebagai Media Pendidikan, Darwanto mengutip beberapa pendapat Patricia Marks Greenfield yang ditulis dalam buku Mind and Media, diungkapkan bahwa media sebagai pembawa pesan bersifat “netral”. Artinya dapat berpengaruh positif maupun negatif terhadap penontonnya, khususnya anak-anak, bukan bersumber pada medianya, melainkan bagaimana memanfaatkan media tersebut. Dengan demikian, peran orang tua sangat dominan terhadap adanya pengaruh positif maupun negatif terhadap anak-anak itu (Darwanto, 2007: 121).
Dari penjelasan tersebut di atas jelas bahwa media, dalam hal ini televisi, tidak bisa disalahkan atas berbagai dampak buruk yang ‘katanya’ ditimbulkan olehnya. Kita juga harus mengkaji lebih dalam atas dampak-dampak tersebut. Penonton sebagai konsumen juga harus lebih jeli dan kritis terhadap berbagai tayangan televisi, baik hiburan maupun berita. Sehingga mereka tak mudah terpengaruh dan cepat bereaksi atas apa yang mereka dapat dari televisi. Dan dengan ini diharapkan agar televisi akan menjadi sebuah opinion leader baru yang baik untuk penontonnya.
Sumber : http://larassutedja.blogspot.co.id

0 Response to "Televisi Sebagai The New Opinion Leader"
Posting Komentar